sains tentang mabuk perjalanan
konflik antara mata dan telinga dalam di otak kita
Bayangkan skenario ini. Kita sudah merencanakan sebuah perjalanan liburan yang sempurna. Ransel sudah masuk bagasi, playlist lagu favorit sudah mengalun, dan obrolan seru mulai mengisi seisi mobil. Namun baru satu jam perjalanan, jalanan mulai berkelok tajam naik turun pegunungan. Tiba-tiba, obrolan kita terhenti. Keringat dingin mulai mengucur di tengkuk. Perut terasa seperti sedang diputar di dalam mesin cuci. Keseruan liburan langsung tergantikan oleh perjuangan menahan mual. Kenapa tubuh kita seolah mengkhianati kita di momen yang paling menyenangkan? Pernahkah teman-teman bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat kita mengalami mabuk perjalanan? Mari kita bedah misteri yang menyebalkan namun sangat manusiawi ini bersama-sama.
Untuk memahami pengkhianatan tubuh ini, kita harus berkenalan dengan dua detektif utama yang bekerja di dalam sistem navigasi kita. Detektif pertama tentu saja adalah mata kita. Ia bertugas memantau pergerakan visual. Detektif kedua bersembunyi jauh di dalam telinga kita, sebuah struktur biologis rumit yang disebut vestibular system atau sistem vestibular. Di dalam sana, terdapat cairan yang selalu bergerak merespons gravitasi dan perpindahan posisi tubuh. Dalam keadaan normal, kedua detektif ini bekerja sama layaknya pasangan dansa yang sempurna. Saat kita berjalan santai di taman, mata melihat pepohonan bergerak mundur. Di saat yang sama, cairan di sistem vestibular bergeser, melaporkan adanya pergerakan fisik. Otak kita menerima dua laporan yang sinkron ini dan menyimpulkan bahwa semuanya aman. Kita merasa seimbang. Harmoni ini berjalan luar biasa mulus, setidaknya sampai peradaban modern datang dan merusak tarian tersebut.
Masalah besarnya dimulai saat manusia menciptakan alat transportasi. Coba kita ingat-ingat lagi momen saat kita asyik membalas pesan di layar handphone atau membaca buku sambil duduk di jok belakang mobil yang melaju kencang. Di titik inilah bencana miskomunikasi terjadi. Mata kita menatap layar atau halaman yang diam tak bergerak. Detektif mata mengirim pesan ke otak: "Bos, lapor, kita sedang duduk diam." Tapi tunggu dulu. Mobil tiba-tiba mengerem, berbelok tajam, dan melindas jalanan berlubang. Cairan di dalam vestibular system kita berguncang hebat ke segala arah. Detektif telinga berteriak panik ke otak: "Bos, kita sedang melesat dan berguncang keras!" Otak kita mendadak kebingungan setengah mati. Selama jutaan tahun sejarah evolusi, manusia purba tidak pernah mengenal mobil, bus, atau kapal feri. Bagi otak primitif kita, manusia hanya punya dua mode utama: diam duduk di gua, atau berlari mengejar buruan. Tidak ada sejarahnya manusia bisa duduk diam tapi tubuhnya melesat dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Lalu, apa kesimpulan logis yang ditarik oleh otak kita saat menerima dua laporan yang saling bertentangan secara ekstrem ini?
Di sinilah letak kejutan sainsnya yang paling memukau, sekaligus mungkin sedikit konyol. Saat otak menerima sinyal yang berkonflik keras dari mata dan telinga, ia tidak berpikir: "Oh tenang saja, kita sedang traveling naik minibus." Tidak. Otak purba kita langsung mengambil kesimpulan yang paling gelap dan paling masuk akal menurut kamus evolusi. Ia mengira kita sedang keracunan. Ya, teman-teman tidak salah dengar. Dalam sejarah panjang kelangsungan hidup manusia, satu-satunya alasan mengapa sistem sensorik kita bisa sangat kacau—di mana mata melihat kita diam tapi tubuh merasa terguncang—adalah karena kita tanpa sengaja memakan beri beracun atau jamur yang mengandung zat neurotoxin. Racun saraf ini membuat sistem navigasi kita berhalusinasi. Karena otak adalah organ pelindung yang sangat protektif, ia segera membunyikan alarm tanda bahaya tertinggi. Mode bertahan hidup diaktifkan. Dan apa solusi pertolongan pertama dari otak untuk menyelamatkan kita dari "racun" mematikan ini? Tentu saja, segera buang isi perut sebelum racunnya menyebar. Otak dengan sengaja memicu rasa mual yang luar biasa dan memaksa kita untuk muntah. Mabuk perjalanan ternyata bukanlah sebuah kecacatan tubuh. Itu adalah mekanisme pertahanan heroik dari otak yang sedang berusaha mati-matian menyelamatkan nyawa kita.
Mengetahui fakta ini entah kenapa membuat saya bisa lebih berdamai dengan rasa mual di perjalanan. Tubuh kita sama sekali tidak bermaksud menyiksa, ia hanya sedikit salah paham karena terlalu peduli pada keselamatan kita. Sekarang, karena kita sudah tahu akar psikologis dan biologisnya, kita bisa mengakali otak purba kita agar lebih tenang. Saat keringat dingin itu mulai datang, hal paling logis yang harus segera kita lakukan adalah melihat jauh ke luar jendela. Tataplah pepohonan yang lewat, jalanan di depan, atau garis cakrawala. Dengan melakukan ini, kita memberi bukti visual kepada detektif mata bahwa tubuh kita memang sedang bergerak. Laporan mata dan telinga kembali sinkron. Otak pun perlahan menyadari bahwa kita tidak sedang berhalusinasi karena racun. Jadi, untuk perjalanan kita berikutnya, mari hargai sistem keamanan canggih dan overprotective di dalam kepala kita ini. Simpan handphone sejenak, nikmati pemandangan di luar sana, dan biarkan otak tahu bahwa kita baik-baik saja. Lagipula, dunia terlalu indah untuk dilewatkan hanya karena salah paham di dalam kepala.